Roma memang benar-benar berwarna buat kami.
Perjalanan ke Roma diawali dengan syukur karena kami menemukan jadwal kereta dari Venezia yang berangkat pukul 11 malam dan nyampe jam 6 pagi. Woww, sungguh menggiurkan bukan. Kami gak perlu mengalokasikan dana untuk tidur di hotel. This was a happy story, tunggulah sampai chapter selanjutnya.. ![]()
Karena ketidaktahuan (dan kengiritan) kami, maka suami saya tidak membooking seat untuk perjalanan kereta dari Venezia ke Roma. Baru menikmati tidur selama 1 jam, tiba-tiba kami dibangunkan di stasiun berikutnya karena seat yang kami duduki sudah dibooking oleh orang lain. Mata yang berat, kepala yang pusing karena dibangunkan mendadak, ternyata masih ditambah dengan kenyataan pahit bahwa seluruh seat dalam kereta api telah penuh!! Kami pun terpaksa duduk di lorong kereta dengan bangku darurat. Sungguh menyedihkan.Walaupun begitu, tidak lama rupanya saya menderita karena seorang bapak-bapak berkebangsaan Uzbekistan memberikan bangku yang sudah dibookingnya untuk saya dan memilih untuk duduk di lorong bersama suami saya tercinta yang menahan kantuk selama 6 jam perjalanan. Huhuhuhuhu… kasiaaaannn.. saya pun gak tega. Walaupun duduk enak, tapi tiap sejam sekali terbangun ngeliatin suami.
Jam 3 pagi, suami saya mulai bisa memaksakan dirinya untuk tidur, sebelum sekonyong-konyong datang mas-mas membawa trolley memaksa melewati lorong dan berteriak “AQUA PANINI!! AQUA PANINI!!”
Ya ampuuuunn.. buyar sudah mimpi yang baru saja mulai dibangun!!! Ini kereta arah ke Roma apa arah ke Blitar? ![]()
Akhirnya 6 jam itu pun berhasil kami lewati. Kami pun tiba di Roma. Sesampainya di stasiun Roma Tiburtina kami langsung dikejutkan dengan keadaan stasiun yang ya-ampun-kumuhnya. Sempet agak kecewa sebelum akhirnya kami melihat stasiun Roma Termini yang ya-ampun-megahnya. Duuhh, dasar penumpang kereta api kelas dua hahaha. Beruntung kami menemukan hotel murah tepat di depan stasiun Termini yang secara kebetulan juga sangat dekat dengan restoran kebab halal. Hari ini, bekal kami sudah habis, kebab pun jadi kawan baru hehe
Basilica St. Peter di Vatican menjadi tujuan pertama kami. Takjub. Kami akui. Basilica ini begitu megah dan detailnya sungguh mencengangkan. Arsitektur yang sangat luar biasa. Tempat yang wajib dikunjungi selain Colosseum.

Menghabiskan sore harinya untuk tidur balas dendam, malamnya kami sempatkan untuk mengintip sebentar Colosseum di saat gelap. Luar biasa. Merinding membayangkan dulu para gladiator menjadi tontonan melawan singa disini. Saya sama sekali tidak meragukan Colosseum termasuk dalam 7 keajaiban dunia!!

Pagi di Roma terasa cerah. Setelah sarapan, kami langsung berangkat ke colosseum kembali. Setibanya di colosseum, dari jauh terlihat orang-orang berpakaian kesatria romawi yang menyambut ramah, “Indonesia!! Indonesia!! Ahh, selamat pagi!! Take a picture?” sambil girang karena akhirnya ada yang mengenali kami sebagai orang Indonesia kami pun terbius. Suami saya dengan senang hati memakai topi kesatria romawi dan… jepret-jepret-jepret!! Kami pun berfoto bersama mereka. Udahannya, nah ini yang bikin anyep. Tidak ada yang gratis di muka bumi ini wahai kawan. Lembaran2 euro pun lepas dari tangan dan merusak mood sampai 2-3 jam sesudahnya. Aaaarrrrggghhhhh!!! ![]()
Ternyata orang Indonesia memang terkenal di Roma!! Terkenal banyak duitnya pula!! Jadi sekalinya diminta bayaran juga gak nanggung-nanggung. Aduuuuuhhh efeknya kan jadi kena ke kita-kita yang jalan-jalannya modal nekat dan murah. Beberapa kali kami kembali disapa “Indonesia, take a picture?” oleh kesatria2 gadungan yang lain. Huhuhu, cukup sekali lah yaw. Gak mau ketipu lagi!
Beranjak dari Colosseum, kami mampir sebentar ke Fontana di Trevi dan Pantheon. And after all, we (still) love Rome. Indah, cantik, dan penuh peninggalan sejarah. Dua hari disini, perjalanan dilanjutkan. Milan sudah menunggu…
Berbagi Pengalaman dan Tips di Roma:
- Kalau tiba dengan kereta dan stasiun pemberhentian anda disini adalah Roma Termini, maka selamat! Banyak hotel/hostel murah bertebaran di depan stasiun nan canggih dan megah ini. Silakan cari muter-muter sendiri mana yang paling cocok dengan kantong dan selera anda. Kalau saya, waktu itu nginap di penginapan namanya Caput Mundi. Sayang gak ada wi-fi nya. Meskipun demikian, warnet dan wartel internasional juga bertebaran disini. Tinggal ngesot dikit dari hotel bisa langsung konek dengan harga 1-2 Euro per jam. Mau cari penginapan yang ber wi-fi juga ada. Tapi kebetulan kita udah kesengsem sama Mbak Katarina resepsionisnya Caput Mundi yang baik yang berasal dari Rusia. Tambahan lagi, di hari check in maupun check out (walaupun jam check in belum mulai atau jam check out sudah lewat jauh), kita juga bisa nitip barang di resepsionisnya. Jadi jalan-jalan juga gak keganggu sama barang bawaan yang berat.
- Roma sangat atraktif dan waktu 1 hari menurut saya gak cukup untuk menikmati semuanya.
- Transportasi harian disini jauh lebih murah daripada di Venezia. Tiket all in 24 jam harganya 4 Euro. Kalau yang 3 hari dikorting jadi 11 Euro.
- Persis di seberang stasiun Termini yang dekat dengan stasiun bus (sekitar 30 langkah jaraknya dari McD), ada restoran kebab halal (Doner Kebab) yang endang gurindang. Mintanya kebab plate ya, biar makannya di piring dan pake kentang. Lumayan buat obat kangen makan nasi dan yang penting halal. Di depannya persis si Doner Kebab Halal ini juga ada restoran pizza halal. Tapi saya gak nyoba.
- As I stated above, hati-hati kalo ada ksatria romawi di sekitaran kompleks Colosseum (meskipun dia ganteng) yang ngajakin foto bareng. Ingat, tidak ada yang gratis di muka bumi ini. Terkecuali kalo memang anda ridho dan pengen foto bareng mereka ya silakan…
- Sampaikan salam saya buat pak polisi (atau jangan2 pak satpam?) yang tugasnya di depan Train and Ticket Information di stasiun Roma Termini yang MasyaAllah gantengnya. 30 menit nunggu suami ambil barang di penginapan jadi gak berasa karena ngeliat yang seger-seger. Ini kalau di Indonesia kayanya artis pada rebutan minta dinikahin sama dia huahahaha