Tag Archives: kuliah di Swedia

i’m going to kenya :) (dan serba-serbi kuliah di chalmers)

i’m going to kenya :) (dan serba-serbi kuliah di chalmers)

hellooo world :D

lama banget saya gak nyentuh blog. kangen sih nulis, tapi males mulainya heheh. ngomong2, saya masih punya utang cerita tentang seluk beluk kuliah di Chalmers. mungkin saya cicil mulai dari postingan kali ini aja deh.

saya lulus S1 dari ITB, jurusannya planologi alias perencanaan wilayah dan kota yang katanya master of something about everything. alias belajar banyak hal tapi sedikit2. mulai dari TPB (alias tahapan persiapan bersama/tingkat 1), saya masih belajar kimia, kalkulus, dan fisika. trus tingkat 2 sedikit belajar geologi alias struktur tanah dan bebatuan (nah lho!), ditambah perpetaan, juga statistik dan MAP (lebih advance dari statistik) –> sejujurnya saya mulai kangen belajar ini :P

gak lupa teori perencanaan itu sendiri, studio wilayah dan kota (yang keluarannya RTRW! cihuy!) juga teori ekonomi pembangunan, sedikit ilmu hukum dan administrasi pemerintahan, dan akhirnya belajar GIS/Geographical Information System (yg mana ayah saya ahlinya hehe) dan studio yang mulai gambar (pake komputer) dan bikin maket. hebat kan! ;)

tapi sesungguhnya saya merasa gak ada satu pun di bidang itu yg saya expert, hehe. walaupun akhirnya tugas akhir saya tentang modelling transportasi (which i loved so much :P ) tapi ternyata program master saya jauh berbeda dengan itu.

di Chalmers, saya belajar di program Design for Sustainable Development, di bawah Dept of Architecture. sempet jiper juga awalnya, karena di master kali ini saya harus belajar banyak desain (yg mana ketinggalan jauh sama anak arsitek). yaaa, walaupun pas studio tapak S1 saya dapet A hihi (sungguh suatu anugerah :D ).

nah, sekarang ngomongin tentang teknis kuliah di Chalmers. sistemnya disini quarter, alias tiap semester dibagi 2 periode. untuk program master saya, tiap semester kreditnya (ato SKS kalo di Indonesia) adalah 30 ECTS.

7,5 ECTS untuk kuliah singkat dan 22,5 ECTS sisanya adalah studio. tiap semester, paling tidak ada 2-3 studio yang bisa dipilih sesuai keinginan. untuk sistem perkuliahannya sendiri, disini mungkin sedikit berbeda. semester 1, saya belajar tentang Sustainable Development and the Design Professions (7,5 ECTS). untuk mata kuliah ini, saya belajar full dari senin-jumat mulai dari jam 9 pagi-4 sore selama 4 minggu. loh, bosen amat ya diajar dosennya itu2 aja? eits, jangan salah. biasanya 1 hari itu ada 3 topik yang dipelajari, misalnya biomimicri (adaptasi desain mengikuti bentuk biologis alam), lalu nonton film tentang sustainable city di Brazil, juga sustainable based on political perspective.

dan dari 3 topik tersebut, yang mengajar adalah 3 orang yang berbeda-beda dengan latar belakang keahlian yang sesuai dengan topiknya! jadi misalnya yang ngajar biomimicri adalah orang dari industrial ecology, trus pas nonton film yang bikin filmya datang untuk diskusi, dan yang ngajar politik adalah dosen politik dari universitas sebelah.

begitu juga untuk kuliah studio (saya mengambil Suburbs Studio: Design for Future Challenges untuk semester 1), yang mengajar juga tetap gantian, tergantung tentang topik apa yang sedang dipelajari.

so far, saya sudah diajar dosen dari perancis, jerman, belanda, denmark, finland, dari kota2 sebelah di swedia, dll. bukan berarti dosen kita jadi nganggur, enggak, mereka juga ikut di kelas dan memoderasi. beberapa kali mereka juga ngajar. intinya, di Chalmers, mereka ingin memastikan bahwa setiap topik selalu disampaikan oleh orang yang memang ahlinya. artinya, mereka juga menyadari bahwa dosen itu bukan supermarket atau toserba yang pasti semuanya bisa. tapi ada topik2 tertentu yang memang benar-benar harus diajar oleh ahlinya.

salah satu yang paling berkesan adalah ketika diajar oleh Gehl Architects dari Denmark tentang rehabilitasi kawasan suburbs/imigran dan juga ketika diajar tentang citizen participation di Afrika oleh Carin Smuts.

menarik kan, kuliah di Chalmers? :)

nah, untuk semester 2 ini saya mengambil Reality Studio in Southern Context yang lokasinya kebetulan di Kisumu, Kenya. insyaAllah minggu depan saya berangkat ke Kenya. untuk studio ini, Chalmers berkolaborasi dengan UN-HABITAT dan dengan local university disana (Maseno University). yang bikin berat sih karena saya harus berada di Kenya selama 2 bulan. hiks hiks, ninggalin suami deh. semoga ada cerita dan pelajaran menarik dari sana yang bisa saya share disini, insyaAllah amiin :)

not the best university in the world, it is definitely the best for me

not the best university in the world, it is definitely the best for me

Belum sempet nulis sendiri tentang seluk-beluk kuliah di Swedia, khususnya di Göteborg di Chalmers Uni of Technology.. tapi mungkin sedikit tulisan dari suami saya bisa memberi gambaran bagi yg membutuhkan :)

Not the best university in the world, it is definitely the best for me

Statement di atas selalu saya ungkapkan di depan ketika saya ditanya, bagaimana sistem pendidikan S3 yang saat ini saya ambil di Swedia. Karena konklusinya adalah “for me it is the best” akhirnya to some points akan sangat subyektif karena masing-masing dari kita memiliki ekspektasi yang berlainan. Nah, pemaparan berikut mengambil sudut pandang saya tentang S3 yang saya amblil, khususnya di Department Technology, Management and Economics di Chalmers University of Technology. Saya juga akan sedikit menggambarkan S3-S3 di tempat lain sebatas yang saya tahu dari cerita beberapa teman atau dari pengalaman saya sendiri. Akhirnya, mohon maaf jika pemaparan saya kurang sesuai dengan yang diharapkan. Yah itung2 dengerin cerita orang lagi jet lag. Nah berikut ini beberapa point yang ingin saya angkat.

S3 di Eropa

Secara umum tujuan utama pendidikan Eropa bagi pelajar di Indonesia saat ini masih berputar di Inggris, Belanda, dan Jerman. Italia dan Perancis ada di eselon sesudahnya, sementara Swedia Spanyol, Swiss, Turki ada dalam katagori “mulai dilirik”. Kesimpulan ini saya ambil dari diskusi sesama pengurus PPI di Eropa beberapa waktu lalu mengenai jumlah populasi masing-masing PPI. Mengenai sistem, dari salah satu mata kuliah yang saya ambil, Theory and Method, sistem pendidikan S3 di Eropa lebih “kualitatif” di bandingkan dengan, misalnya Amerika. Berlaku untuk disiplin ilmu seperti managemen dan ekonomi. Artinya sama-sama belajar manajemen, misalnya, sistem Amerika sangat mementingkan generalisasi (kuantifisir) dan satu sangat detail pada corak.

Dulunya —mungkin karena dari FEUI yang mayoritas, menurut saya, orang akan kelihatan gak pinter kalau gak tahu model dan ekonometri— saya juga termasuk orang yang sangat sinis dengan orang2 kualitatif. Karena sebagaimana yang mudah dipahami, orang kualitatif bercerita, sementara orang kuantitatif menghitung dan “memastikan”. Padahal, masing-masing memiliki keunggulan yang berbeda. Dan yang pasti, meta-theory (kalau orang filsafat ilmu bilang : ontology dan epistemology) nya juga berbeda. Perbedaan meta-theory yang berbeda membuat validitas study nya juga berbeda. Karena itulah sistem S3 di Eropa secara umum memiliki corak yang lebih berwarna. Sayangnya, di Indonesia studi kualitatif lebih banyak melekat pada ilmu seperti sosiologi, antropologi, dsb sehingga orang sudah reluctant duluan jika ada studi ekonomi-manajemen dilakukan secara kualitatif.

Surprisingly, Chalmers sebagai sekolah teknik sangat kuat di kualitatif dan bukan kuantitatif. Sebagai contoh metode-metode studi kasus lebih dikemukakan dalam kajian mengenai perusahaan tertentu: bagaimana system yang baru berpengaruh pada kinerja perusahaan. Studi ini dilakukan dengan sangat mendalam sehingga hasilnya sangat context dependent. Saya bisa katakana, banyak menemukan studi kasis dalam tesis dan disertasi yang sangat menarik dan applicable. Terakhir kami disuruh mereview tesis mahasiswa TME Chalmers tentang pereferensi harga cellular services di Kenya. Kami semua sangat surprise dengan begitu dalam dan detail thesis tersebut dalam men scrutinize permasalahan yang ada. Di sisi lain, kami yang dari ekonomi lebih terbiasa dengan one-fit for all ‘ala regresi dan ekonometri untuk menyelesaikan permsalahan masalah pricing.

Apa yang spesial di Swedia

Ada satu section dalam buku “Theory and method” mengenai “Scandinavian school of taught”, yang sayangnya saya lupa kalimatnya, saya suka sekali dengan terminology tersebut. Tapi ringkasnya adalah bahwa sistem pendidikan di Swedia lebih mengutamakan inovasi pada level individual, entrepreneurship , dsb. Geliat bisnisnya tidak gegap gempita tapi riil dan dimulai dari hal2 yang kecil. Karena itulah metode studi yang sangat sering digunakan di sini adalah case study analysis atau collaborative study (antara Universitas dan industri).

Nah yang paling saya suka dari system pendidikan di sini adalah : kita di lepas. Mungkin ada drawback nya juga karena tidak ada standar baku di doctoralship. Tidal seperti di Amerika ketika kita gagal mengambil test komprehensif maka gugur status kita. Di sini, kita bebas mengambil course apapun sesuai dengan latar belakang dan topic yang kita pilih, lintas divisi, department, universitas bahkan negara. Yang paling mudah sebagai contoh, saya mengambil 40% course di Graduate School of Economics di mana saya bisa belajar ekonometri sama intensnya dengan anak2 PhD economics di Gothenburg University. Di sini you choose your path. Nah ini yang menguntungkan kita karena bisa menjadi free ridership dari kegiatan di tempat lain. Saya sempat belajar panel data langsung dari Steve Bond di Gothenburg Uni (yang modulnya sempet kita bahas di Bogor bersama teman2 BI) atau dari Krugman dan beberapa ilmuwan top lain. Tapi kita juga banyak belajar qualitative (ada namanya Eisenhardt yang menjadi acuan teman2 yang mengambil studi2 kasus, yang terakhir kita undang di Chalmers).

Di sini kita sangat merasakan , “mengambil PhD bukan berarti menjadi robot” tapi tetap menjadi manusia pada umumnya. Supervisor, sebagai bagian dari annual report, “diwajibkan” membuat formal meeting 2 kali setahun hanya untuk membahas “apakah apartment nya nyaman, gimana pemanas, ada rencana pindah rumah, perlu bantuan membeli perabotan, dsb” . Ini adalah bagian dari “working condition assessment” yang dievalusi oleh Chalmers. Tentu di samping pertemuan resmi seminggu atau dua minggu sekali dengan supervisor membahas paper, atau course. Intinya sangat dimanusiakan.

Anda tidak akan menemukan professor “supermarket” di Swedia. Setokoh apapun professor itu , se-berpuluh2 tahun pengalaman nya, jika dia ditanya seuatu yang dia tidak tahu, dia tidak akan capek mengarang jawaban. Simply menjawab “saya tidak tahu”. Tapi bukan berarti tidak bertanggungjawab. Profesor saya ahli Telecommunication policy (chairman International Telecommunication Society dan Board of Journal of Telecommunication Policy), tapi dia merasa kemampuan ekonometrikanya “kurang”. Maka dia mengundang eksternal supervisor yang secara rutin mengecek pekerjaan kita. Misalnya saat ini kita memiliki 3 external supervisor : khusus modeling, ekonomi dan ekonometri. Intinya mereka akan berusaha semaksimal mungkin memberikan pengajaran yang terbaik meskipun tidak secara langsung. Saya lihat teman2 juga mengalami hal yang sama di divisi lain.

Ranking?

No-no..menurut saya anda salah jika masuk Chalmers untuk jadi ilmuwan yang bakal dapat Nobel prize (meskipun Gustaf Adolf dulu peraih nobel). Saya kemudian tidak heran dengan keluhan beberapa teman, “ah lebih susah waktu gue di ITB”. Menurut saya di Chalmers yang dipentingkan bukan pengetahuan yang mendalam atas ilmu, tapi bagaimana linkage ke dunia nyata bisa disalurkan. Makannya dari sisi jumlah penerbitan makalah ilmiah, temuan-temuan mungkin tidak begitu banyak, dan dari sisi ranking gak begitu tinggi (walaupun masih lebih tinggi dari ITB atau UI setidaknya). Profesor2 di sini lebih panic memikirkan : bagaimana kolaborasi dengan SKF, Volvo dan Vinova tetap berjalan tanpa begitu memperhatikan ranking.

Nah saya mengambil kesimpulan linkage tentang dunia nyata dari kasus istri saya yang sedang mengambil Arsitektur. Barangkali di tempat lain, arsitektur itu dipandang satu mindset, Tapi di sini kita dipaksa melihat berbagai macam mindset. Misalnya arsitektur Negara maju, maka mahasiswa harus mengambil case Negara maju, mereka memiliki project bersama NASA (pokoknya menyangkut hal2 modern). Tapi mengantisipasi tidak semua mahasiswa nantinya bekerja di Negara maju atau berasal dari Negara maju, ada juga pilihan mengambil case di Kenya (yang istri saya ambil) di mana mahasiswa harus live in dan keluar dengan rekomendasi kebijakan. Saya pikir ini sangat menarik bahwa kita mempelajari sesuatu yang kelak memang kita akan lakukan/implemnetasikan.