masih dari sekolah bahasa

8 May 2009

hari ini, Matt, si bule dari Inggris (yang tiap kali dia ngomong bikin saya inget sama film Harry Potter) tiba2 nanya sama saya pas break sekolah:

“Ree-ha-na, how do you know that?”

“Know about what?”

“Know about everything, it seems like you know Swedish very much!”

hahahahahaha.. :mrgreen:

tau nggak, saya merasa beruntung menjadi orang Indonesia ketika belajar bahasa Swedia karena relatif mudah bagi kita untuk melafalkan huruf2 dalam bahasa tersebut. konsonant by the way, soalnya kalo vokal emang rada2 ribet gimanaaa gitu. huehehe..

sebagai contoh, pelafalan huruf “R” dalam bahasa Swedia sama persis seperti ketika kita mengucapkan “R” (untuk dialek di Göteborg pada khususnya, soalnya kalo di kota lain seperti di Malmö, pelafalan huruf R-nya seperti pelafalan huruf R dalam bahasa Perancis) . anyway, kasian si Matt, sampe mukanya merah jambu dan keliatan mau meledak tetep aja gak keluar tu huruf “R”.

contoh yang lain lagi, guru saya sampe beratus2 kali ngasih tau kalo “NG” itu (mostly) dibacanya “eng” (seperti cara kita membaca “NG”). sehingga kata “pengar” yang artinya “uang” dibaca sebagai “pengar”. bukannya “peng-gar”. untuk kasus ini, temen2 saya banyak banget yg teteeep aja gak bisa.

oya, selain itu, ternyata bahasa Indonesia dan Swedia juga memiliki beberapa kesamaan. contoh: handduk-handuk, kontor-kantor, långsam-langsam, precis-persis, dll dsb. agak penasaran juga, apakah bahasa Indonesia untuk kata2 tsb merupakan serapan dari bahasa Belanda? kalo gitu gak aneh sih.. Swedia relatif dekat dengan Belanda, sementara Belanda pernah menjajah kita. tapi kalo bahasa2 itu bukan serapan dari bahasa Belanda, weww emang cukup aneh. saya pernah baca salah satu artikel yang ditulis mahasiswa di website PPI Swedia. menurut yg nulis, mungkin aja dulu ada pelaut Jawa yg nyasar sampe Swedia sehingga bahasa kita bisa mirip. karena eh karena, dlm bahasa Swedia ada ungkapan “Javisst!” alias “oh, oke” yang kurang lebih mirip2 sama bahasa Jawa “Ya wis!” huehehehehehehehe :mrgreen:

bicara soal bahasa, ada lagi yg lucu.

bagi yang muslim dan minimal bisa baca huruf arab, tentunya tau kalo dalam bahasa Arab itu ga ada pelafalan “P”. adanya “F” dan “B”. nah, suatu hari saya diceritain sama temen saya. mengacu kepada perkembangan jaman, orang2 arab masa kini menggunakan ungkapan Papa-Mama/Papi-Mami untuk panggilan oleh anak2nya. di lain sisi, bagi mereka naudzubillah susahnya melafalkan huruf “P” yang kemudian dipermudah oleh mereka menjadi “B”.

lanjut cerita, suatu hari temen saya itu berkunjung ke rumah saudaranya (temen saya menikah dengan orang Arab anyway), nah di keluarga itu mereka membiasakan anak2nya untuk memanggil orang tua dengan ucapan Papi-Mami. begitu duduk di ruang tamu, saudara teman saya tsb ingin memperkenalkan anak-anaknya kepada temen saya. dan dia pun memanggil anak2nya untuk datang ke ruang tamu, “ayo.. ayo.. sini sama BABI..” :GUBRAKS!:

catatan: seluruh cerita dan kejadian dalam posting kali ini adalah benar adanya dan bukan merupakan rekayasa


eksperimen tentang hidung

15 February 2009

orang-orang eropa/bule/kulit putih : mancung

.

orang-orang arab/timur tengah :  mancung

–> orang iran/persia : mancung, agak besar, agak bengkok

.

orang afrika/kulit hitam : macem2

–> orang somalia : mancung, kecil

–> orang nigeria, kenya : besar, bulat

.

orang-orang asia : macem2

–> orang cina : kecil, bulat

–> orang jepang : kecil, bulat

–> orang india : mancung

–> orang indonesia : macem2

—–> saya : mancung

—–> suami saya: bulat pesek

.

huuehehehehehehehe..

disclaimer!!: hanya bedasarkan pengamatan sepihak dimana akurasi data secara ilmiah sangat diragukan! :mrgreen:

……last but not least, alhamdulillah kita semua punya hidung untuk bernafas

sumber gambar:
http://www.tomcarter.org/
http://www.ololfilm.com/
http://www.pbase.com/
http://www.id.ibtime.com/
http://www.people.com/


bottle tragedy

9 December 2008

Suaminya Riana wrote:

And the story Goes….(Sorry Agnes Monica..I steal your album title for a while).
I flight form Gothenburg to Basel yesterday. But, since there is no direct flight I have to connect in Berlin instead. Its great feeling to see how poor East Germany own a great Berlin city. Anyway..

When I was in my way back from Berlin Tegel to Gothenburg here is the story started..
I forgot (I regret to state many forgots in my life experience, but NOT to forget the reason why I marry my wife at least..) to empty my bottle. I have been very tired on my way back from Basel to Berlin that made me have no extra time to check my bottle inside.

And Gosh..They found it. Actually, I seen a lot of bottle there at least for thousands or hundreds people who still bring their aqua bottle in the check in point..Thats why I tried to negotiate.”Can I empty my bottle by flowing the water here”..I showed some empty bottle there..

They said “100% NO!”, and they continue their germany which I dont even 1% understand what they mean. Somebody then told me, “Leave your bottle here OR drink your water”

I just bought it in sport shop in Basel. very nice bottle that remind me of Roger Federer because the wallpaper of the shop stated “proudly present roger federer bottle” therefore I choose the 2nd option. “OK I drink it” .You know it almost 1 litter water.Sorry cant exactly find the best word (even in Bahasa..can you find a higher degree of “kembung”) to express that my stomach was “Mblending“..It sounds “pung pung pung” during my walk in the airport.But yeach…I forgot that I was fasting during that Thurday (yesterday), So its kinda blessing in disguises.A win win solution.At least, the good news is I did not feel any thirsty until NOW…


Polisi Jerman (Freiburg tepatnya)…

9 December 2008

Suaminya Riana wrote:

Menghabiskan 3 hari di Freiburg, Jerman menghadirkan pengalaman yang tak terlupakan. Saya kebetulan berpartisipasi dalam International Journal of Arts and Science Conference yang diadakan di Gottenheim (10 menit dari Freiburg main station)..Cerita seriusnya nanti akan saya update. Bagian ini bagian2 yang gak serius tapi berkesan..

Singkat cerita
Pada hari pertama konferensii (Senin 1 Desember), mata sudah lelah, badan pegal2..karena nenteng2 bawaan dari bandara Basel. Niatnya langsung ke hotel tidur leesss…trus bangun pagi seger..Eh..dikagetin suara “ticket..ticket”..Polisi (?) atau petugas tiket memeriksa satu2

Ndilalah kersaningalah…tiket saya kok ya….gak ada (As usual..apalagi ini lawatan tanpa istri yang biasanya rapi jali membukukan segala macam tiket dan segala antah berantah kertas2 dengan rapi)

Jadilah saya digelendeng ke luar..dan pas di depan toko Natal yang lagi “jingle bell..jingle bell…” sungguh kontradiksi dengan hati saya yang kacau, mata yang sudah merah.Segala isi map diaduk2. tidak juga ketemu. Si pak-pak nya insist “udah loe bayar 40 Euro beres”. Si pak-pak nya juga mulai kesal, pas dia nanyai passpor, saya juga agak lama ngeluarinnya karena passpornya juga ada di tumpukan kertas presentasi dan jadwal acara…Akhirnya saya sudah berniat pasrah..Ya udah deh kehilangan 40 E.

Tapi pikir saya, ini harus diperjuangkan karena saya nggak ngelindur tadi pagi beli 24h tiket yang artinya smpai dengan malam itu masih valid.

Lama-lama, di depan toko Natal itu jadilah kita obyek tontonan setengah lingkaran dengan orang-orang pengen tahu “ini ada apa ya..”.Pikir saya..wah ini martabat bangsa dan negara dari Sabang sampai Merauke nih, palagi si pak-pak nya secara demonstratif ngomong agak keras sambil baca passpor saya “the Republic of Indonesia”..Saya sempat menengok senyum pahit senangnya si pak-pak..Dia ngeyel lagi ” loh mana visa Jerman nya?”, saya jelasin “lah itu kan visa Swedia visa Schengen”..Asli otot2an..Entah kekuatan darimana saya juga gak tau, tapi saya mulai rileks waktu dia mbaca paspor saya sebelumnya..

Detik2 terakhir, akhirnya saya merogoh suatu serpihan kertas di jaket winter, entah dari kantong yang mana..Dan tarra…tiket! Eh..si pak-pak nya masih ngeyel “gak bisa!”, Untung, petugas yang kedua (jadi mereka 2 orang) bilang “Bisa..Ini valid kok”..

Alhamdulillah…

Sontak ..penontong senang, sebagian tepuk tangan, yang pasti semua tersenyum2 (semoga sama dengan senyum senang saya “memenangkan kontes malam itu”..) ..Pulang ke hotel, hati senang, lapang dan menang.

Wuih…


Tiga Hari di Stockholm! Part. 2

17 October 2008

gara2 blog saya barusan di-mampir-in mbak trinity, jadi langsung semangat nerusin part. 2-nya hehe. kemarin juga sempet minta petuah2 sama beliau melalui email untuk trip selanjutnya (amiin) dan langsung dibalas dengan sangat sangat baik. that is very kind of you mbak, thank’s a lot :mrgreen:

okay, menyambung cerita. masih inget kan, klo perjalanan saya ke stockholm ini dicanangkan se-efisien dan se-memorable mungkin? mari kita lanjutkan.

hari kedua, seusai saya tes, kami memutuskan keliling-keliling secara un-planned. toh masih ada hari ketiga sebelum kami pulang. perjalanan dimulai dengan kereta api bawah tanah alias subway, sambil baca-baca panduan “what’s happening in stockholm”. tiba-tiba mata saya terpaku:

……. Oct. 11, World Cup Qualifying Match, Sweden-Portugal, Råsunda Stadion …….

tidaaaakkk.. itu artinya hari ini ada pertandingan kelas dunia!! dan lebih dahsyatnya lagi, zlatan ibrahimovic dan cristiano ronaldo sekaligus!!! (well, i’m not their fans, tapi klo dikasih kesempatan ngeliat langsung pesohor kelas dunia siapa yg gak mau siiihh!!)

akhirnya diskusi antar suami istri berlangsung ketat. nonton, nggak, nonton, nggak, nonton, …. apalagi besok ternyata ada final grand slam tenis Stockholm Open (tennis is my husband biggest passion, anyway). sambi menghitung receh demi receh (sedih amat haha), kami tetapkan bahwa nonton bola hanya akan dilakukan kalo harga tiketnya 50 krona dan mikir2 kalo 100 krona

setelah salah-salah jalan, akhirnya kami berhasil juga mengetahui rute yang benar menuju stadion. di dalam kereta api, kami ketemu para supporter bola…

Ibra (I): hi, are u going to see the football match?

Bule Swedia (BS): yeah

I: oh, where can we buy the ticket? is it sell at the stadion?

BS: ummm, there’s no ticket left.

I: ooohh *ibra dan istrinya berpandang-pandangan*

Istrinya Ibra (II): well, how much did you pay for the ticket?

BS: 300 kron per ticket. but anyway there might be tiket chop outside the stadion (klo gak salah dia ngomongnya ticket chop yg kemungkinan besar artinya calo), they’re selling the ticket but off course the price will be more expensive. maybe about 1000 kron for 1 ticket.

Ibra dan istrinya berpandangan lebih dalam *whaaaatt, batas tolerir kita aja cuma 100 kron buat 1 tiket hahaha*

akhirnya karena udah terlanjur sayang, kami tetep berangkat ke stadion dgn tujuan lumayan lah ngeliat crowded people.. sesampainya disana, terlihat calo-calo bertebaran (ya ampun ada calo juga disini), calo-nya imigran pastinya. iseng-iseng suami saya tanya sama salah satu calo, dan bener sekali harganya 1000 kron per tiket huahahaha.. ditawar gak mau, soalnya katanya “this is a big match, everybody wants to see it, so i can’t give u a lower price”. yasudah..

jalan sana jalan sini, ketemu calo lagi, bapak2 tua. and guess what, dia nawarin 800 krona UNTUK DUA TIKET! berati 1 tiket cuma dimahalin 100 krona aja. aaarrrrggghh tidaaaakk. hati sepasang suami istri ini menjadi galau. bagaimana ini, harga tiketnya “sedikit saja” di atas harga normal. trus ditawar jadi 700 kron untuk 2 tiket (yg artinya masing-masing 50 kron lebih mahal dari harga tiket aslinya),, dan bapak tua itu mau!! huaaaaaaaa…. akhirnya tu tiket dibeli deh (lupa sudah sama janji awal max. 100 kron hehehe).

dan inilah kami, menggigil kedinginan malam-malam di stockholm nonton zlatan ibrahimovic dan cristiano ronaldo sambil teriak-teriak pula. oya, bapak saya selalu bilang, “ngapain nonton bola di stadion, enak juga di teve, lebih jelas”. tapi ternyata enggak segitunya kok, tetep keliatan yang mana “si banyak tingkah ronaldo” dan yang mana “si keliatannya kalem ibrahimovic” —pembelaan diri, hehe—

foto diambil sebelum pertandingan, jadi masih kosong.. si mas kedinginan dan akhirnya menciptakan gaya baru: bukan syal sorban tapi syal sarung! huehehehe

ya pokoknya seru deh.. begitu selesai dapet tiket aja kita langsung teriak2 haha. gak percaya mo nonton pertandingan kelas dunia.

pulang-pulang, semboyan baru dicanangkan. mari kita hidup hemat! hehehehehe.. dan nonton Stockholm Open pun gak jadi

hari ketiga? jalan-jalan menyusuri kota mulai dari cityhall, trus naik katarinahissen (lihat stockholm dari ketinggian 38 meter), dan sehari sebelumnya, sebelum nonton bola, sempet juga ke masjid raya stockholm. sebagian foto-foto (siapa tau ada yg mo liat kenarsisan kami hehe) bisa di klik disini.