not the best university in the world, it is definitely the best for me

6 December 2009

Belum sempet nulis sendiri tentang seluk-beluk kuliah di Swedia, khususnya di Göteborg di Chalmers Uni of Technology.. tapi mungkin sedikit tulisan dari suami saya bisa memberi gambaran bagi yg membutuhkan :)

Not the best university in the world, it is definitely the best for me

Statement di atas selalu saya ungkapkan di depan ketika saya ditanya, bagaimana sistem pendidikan S3 yang saat ini saya ambil di Swedia. Karena konklusinya adalah “for me it is the best” akhirnya to some points akan sangat subyektif karena masing-masing dari kita memiliki ekspektasi yang berlainan. Nah, pemaparan berikut mengambil sudut pandang saya tentang S3 yang saya amblil, khususnya di Department Technology, Management and Economics di Chalmers University of Technology. Saya juga akan sedikit menggambarkan S3-S3 di tempat lain sebatas yang saya tahu dari cerita beberapa teman atau dari pengalaman saya sendiri. Akhirnya, mohon maaf jika pemaparan saya kurang sesuai dengan yang diharapkan. Yah itung2 dengerin cerita orang lagi jet lag. Nah berikut ini beberapa point yang ingin saya angkat.

S3 di Eropa

Secara umum tujuan utama pendidikan Eropa bagi pelajar di Indonesia saat ini masih berputar di Inggris, Belanda, dan Jerman. Italia dan Perancis ada di eselon sesudahnya, sementara Swedia Spanyol, Swiss, Turki ada dalam katagori “mulai dilirik”. Kesimpulan ini saya ambil dari diskusi sesama pengurus PPI di Eropa beberapa waktu lalu mengenai jumlah populasi masing-masing PPI. Mengenai sistem, dari salah satu mata kuliah yang saya ambil, Theory and Method, sistem pendidikan S3 di Eropa lebih “kualitatif” di bandingkan dengan, misalnya Amerika. Berlaku untuk disiplin ilmu seperti managemen dan ekonomi. Artinya sama-sama belajar manajemen, misalnya, sistem Amerika sangat mementingkan generalisasi (kuantifisir) dan satu sangat detail pada corak.

Dulunya —mungkin karena dari FEUI yang mayoritas, menurut saya, orang akan kelihatan gak pinter kalau gak tahu model dan ekonometri— saya juga termasuk orang yang sangat sinis dengan orang2 kualitatif. Karena sebagaimana yang mudah dipahami, orang kualitatif bercerita, sementara orang kuantitatif menghitung dan “memastikan”. Padahal, masing-masing memiliki keunggulan yang berbeda. Dan yang pasti, meta-theory (kalau orang filsafat ilmu bilang : ontology dan epistemology) nya juga berbeda. Perbedaan meta-theory yang berbeda membuat validitas study nya juga berbeda. Karena itulah sistem S3 di Eropa secara umum memiliki corak yang lebih berwarna. Sayangnya, di Indonesia studi kualitatif lebih banyak melekat pada ilmu seperti sosiologi, antropologi, dsb sehingga orang sudah reluctant duluan jika ada studi ekonomi-manajemen dilakukan secara kualitatif.

Surprisingly, Chalmers sebagai sekolah teknik sangat kuat di kualitatif dan bukan kuantitatif. Sebagai contoh metode-metode studi kasus lebih dikemukakan dalam kajian mengenai perusahaan tertentu: bagaimana system yang baru berpengaruh pada kinerja perusahaan. Studi ini dilakukan dengan sangat mendalam sehingga hasilnya sangat context dependent. Saya bisa katakana, banyak menemukan studi kasis dalam tesis dan disertasi yang sangat menarik dan applicable. Terakhir kami disuruh mereview tesis mahasiswa TME Chalmers tentang pereferensi harga cellular services di Kenya. Kami semua sangat surprise dengan begitu dalam dan detail thesis tersebut dalam men scrutinize permasalahan yang ada. Di sisi lain, kami yang dari ekonomi lebih terbiasa dengan one-fit for all ‘ala regresi dan ekonometri untuk menyelesaikan permsalahan masalah pricing.

Apa yang spesial di Swedia

Ada satu section dalam buku “Theory and method” mengenai “Scandinavian school of taught”, yang sayangnya saya lupa kalimatnya, saya suka sekali dengan terminology tersebut. Tapi ringkasnya adalah bahwa sistem pendidikan di Swedia lebih mengutamakan inovasi pada level individual, entrepreneurship , dsb. Geliat bisnisnya tidak gegap gempita tapi riil dan dimulai dari hal2 yang kecil. Karena itulah metode studi yang sangat sering digunakan di sini adalah case study analysis atau collaborative study (antara Universitas dan industri).

Nah yang paling saya suka dari system pendidikan di sini adalah : kita di lepas. Mungkin ada drawback nya juga karena tidak ada standar baku di doctoralship. Tidal seperti di Amerika ketika kita gagal mengambil test komprehensif maka gugur status kita. Di sini, kita bebas mengambil course apapun sesuai dengan latar belakang dan topic yang kita pilih, lintas divisi, department, universitas bahkan negara. Yang paling mudah sebagai contoh, saya mengambil 40% course di Graduate School of Economics di mana saya bisa belajar ekonometri sama intensnya dengan anak2 PhD economics di Gothenburg University. Di sini you choose your path. Nah ini yang menguntungkan kita karena bisa menjadi free ridership dari kegiatan di tempat lain. Saya sempat belajar panel data langsung dari Steve Bond di Gothenburg Uni (yang modulnya sempet kita bahas di Bogor bersama teman2 BI) atau dari Krugman dan beberapa ilmuwan top lain. Tapi kita juga banyak belajar qualitative (ada namanya Eisenhardt yang menjadi acuan teman2 yang mengambil studi2 kasus, yang terakhir kita undang di Chalmers).

Di sini kita sangat merasakan , “mengambil PhD bukan berarti menjadi robot” tapi tetap menjadi manusia pada umumnya. Supervisor, sebagai bagian dari annual report, “diwajibkan” membuat formal meeting 2 kali setahun hanya untuk membahas “apakah apartment nya nyaman, gimana pemanas, ada rencana pindah rumah, perlu bantuan membeli perabotan, dsb” . Ini adalah bagian dari “working condition assessment” yang dievalusi oleh Chalmers. Tentu di samping pertemuan resmi seminggu atau dua minggu sekali dengan supervisor membahas paper, atau course. Intinya sangat dimanusiakan.

Anda tidak akan menemukan professor “supermarket” di Swedia. Setokoh apapun professor itu , se-berpuluh2 tahun pengalaman nya, jika dia ditanya seuatu yang dia tidak tahu, dia tidak akan capek mengarang jawaban. Simply menjawab “saya tidak tahu”. Tapi bukan berarti tidak bertanggungjawab. Profesor saya ahli Telecommunication policy (chairman International Telecommunication Society dan Board of Journal of Telecommunication Policy), tapi dia merasa kemampuan ekonometrikanya “kurang”. Maka dia mengundang eksternal supervisor yang secara rutin mengecek pekerjaan kita. Misalnya saat ini kita memiliki 3 external supervisor : khusus modeling, ekonomi dan ekonometri. Intinya mereka akan berusaha semaksimal mungkin memberikan pengajaran yang terbaik meskipun tidak secara langsung. Saya lihat teman2 juga mengalami hal yang sama di divisi lain.

Ranking?

No-no..menurut saya anda salah jika masuk Chalmers untuk jadi ilmuwan yang bakal dapat Nobel prize (meskipun Gustaf Adolf dulu peraih nobel). Saya kemudian tidak heran dengan keluhan beberapa teman, “ah lebih susah waktu gue di ITB”. Menurut saya di Chalmers yang dipentingkan bukan pengetahuan yang mendalam atas ilmu, tapi bagaimana linkage ke dunia nyata bisa disalurkan. Makannya dari sisi jumlah penerbitan makalah ilmiah, temuan-temuan mungkin tidak begitu banyak, dan dari sisi ranking gak begitu tinggi (walaupun masih lebih tinggi dari ITB atau UI setidaknya). Profesor2 di sini lebih panic memikirkan : bagaimana kolaborasi dengan SKF, Volvo dan Vinova tetap berjalan tanpa begitu memperhatikan ranking.

Nah saya mengambil kesimpulan linkage tentang dunia nyata dari kasus istri saya yang sedang mengambil Arsitektur. Barangkali di tempat lain, arsitektur itu dipandang satu mindset, Tapi di sini kita dipaksa melihat berbagai macam mindset. Misalnya arsitektur Negara maju, maka mahasiswa harus mengambil case Negara maju, mereka memiliki project bersama NASA (pokoknya menyangkut hal2 modern). Tapi mengantisipasi tidak semua mahasiswa nantinya bekerja di Negara maju atau berasal dari Negara maju, ada juga pilihan mengambil case di Kenya (yang istri saya ambil) di mana mahasiswa harus live in dan keluar dengan rekomendasi kebijakan. Saya pikir ini sangat menarik bahwa kita mempelajari sesuatu yang kelak memang kita akan lakukan/implemnetasikan.


autumn again in Göteborg..

3 September 2009

alhamdulillah.. setelah di re-charge dengan liburan 2 bulan, kini saatnya perjuangan baru dimulai..

insyaAllah mulai bulan September ini, kegiatan baru saya nambah selain jadi tukang masak, tukang “beres-beres” rumah, dan tukang2 lainnya, yaitu sebagai mahasiswi di kampus yang sama dengan suami saya. alhamdulillah..

catatan pertama: kuliahnya padat dan keliatannya bakal berat (jadwalnya dari jam 9 pagi-5 sore, belum lagi kalo udah mulai studio). saya jadi agak pesimis apakah saya bisa tetep masak di rumah. insting-insting pencari menu yang gampang dan bergizi mulai dikerahkan. keliatannya pasta dan roti bakal jadi alternatif, semoga aja suami saya yang perutnya perut nasi gak bakal protes, amiin.

catatan kedua: mulai merindukan temen-temen semasa sekolah bahasa dulu.. sebenernya bulan ini tetep dapet panggilan untuk sekolah bahasa, dan alhamdulillah naik level. tapi bagi waktunya itu loh.. gak mungkiiinn.. meskipun sekarang sekolah bahasanya dipindah ke yang seminggu 3x dan kelasnya sore hari. *lagian gak yakin juga otak ini bisa nangkep kuliah berbahasa inggris dan belajar bahasa swedia sekaligus :mrgreen: *

catatan ketiga: pengen bagi-bagi pengalaman tentang naik maskapai timur tengah di blog ini.. entah kapan. tapi sudah berjanji, suatu saat bakal ditulis. secara gitu, maskapai timur tengah terkenal lebih murah dibanding maskapai eropa. siapa tahu aja bisa buat bantu-bantu orang yang butuh informasi tentang plus-minus keduanya (berdasarkan sudut pandang saya tentunya) :razz:

catatan keempat: kembali lagi ke masalah kuliah. selain padat, keliatannya cukup menarik. mungkin karena bidang studi saya juga menarik (amiiiinn, hehehe). kuliahnya banyak dosen tamu yang hebat-hebat (dari universitas sebelah, dari UN Habitat, dari aktivis lingkungan hidup, dll). dari 3 hari kuliah ini aja udah 3 kali nonton film-film pendek dokumenter. semoga aja studio nanti gak bakal berat, amiin. oya, saya kuliah di Design for Sustainable Development, Department of Architecture, Chalmers University of Technology. kapan-kapan juga pengen nulis lebih panjang tentang seluk-beluk kuliah disini :)

sekian untuk hari ini. ingin membangkitkan kembali semangat mengisi jurnal harian online hehe :mrgreen:


masih dari sekolah bahasa

8 May 2009

hari ini, Matt, si bule dari Inggris (yang tiap kali dia ngomong bikin saya inget sama film Harry Potter) tiba2 nanya sama saya pas break sekolah:

“Ree-ha-na, how do you know that?”

“Know about what?”

“Know about everything, it seems like you know Swedish very much!”

hahahahahaha.. :mrgreen:

tau nggak, saya merasa beruntung menjadi orang Indonesia ketika belajar bahasa Swedia karena relatif mudah bagi kita untuk melafalkan huruf2 dalam bahasa tersebut. konsonant by the way, soalnya kalo vokal emang rada2 ribet gimanaaa gitu. huehehe..

sebagai contoh, pelafalan huruf “R” dalam bahasa Swedia sama persis seperti ketika kita mengucapkan “R” (untuk dialek di Göteborg pada khususnya, soalnya kalo di kota lain seperti di Malmö, pelafalan huruf R-nya seperti pelafalan huruf R dalam bahasa Perancis) . anyway, kasian si Matt, sampe mukanya merah jambu dan keliatan mau meledak tetep aja gak keluar tu huruf “R”.

contoh yang lain lagi, guru saya sampe beratus2 kali ngasih tau kalo “NG” itu (mostly) dibacanya “eng” (seperti cara kita membaca “NG”). sehingga kata “pengar” yang artinya “uang” dibaca sebagai “pengar”. bukannya “peng-gar”. untuk kasus ini, temen2 saya banyak banget yg teteeep aja gak bisa.

oya, selain itu, ternyata bahasa Indonesia dan Swedia juga memiliki beberapa kesamaan. contoh: handduk-handuk, kontor-kantor, långsam-langsam, precis-persis, dll dsb. agak penasaran juga, apakah bahasa Indonesia untuk kata2 tsb merupakan serapan dari bahasa Belanda? kalo gitu gak aneh sih.. Swedia relatif dekat dengan Belanda, sementara Belanda pernah menjajah kita. tapi kalo bahasa2 itu bukan serapan dari bahasa Belanda, weww emang cukup aneh. saya pernah baca salah satu artikel yang ditulis mahasiswa di website PPI Swedia. menurut yg nulis, mungkin aja dulu ada pelaut Jawa yg nyasar sampe Swedia sehingga bahasa kita bisa mirip. karena eh karena, dlm bahasa Swedia ada ungkapan “Javisst!” alias “oh, oke” yang kurang lebih mirip2 sama bahasa Jawa “Ya wis!” huehehehehehehehe :mrgreen:

bicara soal bahasa, ada lagi yg lucu.

bagi yang muslim dan minimal bisa baca huruf arab, tentunya tau kalo dalam bahasa Arab itu ga ada pelafalan “P”. adanya “F” dan “B”. nah, suatu hari saya diceritain sama temen saya. mengacu kepada perkembangan jaman, orang2 arab masa kini menggunakan ungkapan Papa-Mama/Papi-Mami untuk panggilan oleh anak2nya. di lain sisi, bagi mereka naudzubillah susahnya melafalkan huruf “P” yang kemudian dipermudah oleh mereka menjadi “B”.

lanjut cerita, suatu hari temen saya itu berkunjung ke rumah saudaranya (temen saya menikah dengan orang Arab anyway), nah di keluarga itu mereka membiasakan anak2nya untuk memanggil orang tua dengan ucapan Papi-Mami. begitu duduk di ruang tamu, saudara teman saya tsb ingin memperkenalkan anak-anaknya kepada temen saya. dan dia pun memanggil anak2nya untuk datang ke ruang tamu, “ayo.. ayo.. sini sama BABI..” :GUBRAKS!:

catatan: seluruh cerita dan kejadian dalam posting kali ini adalah benar adanya dan bukan merupakan rekayasa


vad heter du?

16 March 2009

jag heter riana :mrgreen:

hehe.. iya, jadi ceritanya 2 minggu ini saya mulai sekolah bahasa. namanya “svenska för invandrare” atau “swedish for immigrant”. sekolahnya gratis tis tis, dikasih bahan, dan gurunya juga dedicated banget. waktu belajarnya setiap hari senin-jumat dari jam 8.30-12.00. satu kelas isinya cuma 15-20 orang dan sistem belajarnya interaktif. tapiiii walaupun fasilitas menunjang gitu, tetep aja yg namanya belajar bahasa asing itu susyeee.

yang bikin repot, huruf vokal dalam bahasa swedia ada 9:

a, i, u, e, o, y, ö, å, dan ä

dengan pengucapan yang mana tahan ribetnya!

hari pertama sebelum berangkat sekolah, saya sempet nebak-nebak dalam hati, kira-kira pesertanya negara mana aja. tebakan saya sih, pasti ada orang dari arab dan cina. negara pengekspor manusia imigran terbesar gitu loh. tebakan saya gak salah, dari 20 orang, ada 6 orang irak dan 2 orang cina. sisanya ada dari inggris, hungaria, rumania, meksiko, macedonia, albania, serbia, rusia, ethiopia, dan eritrea. nah.., yang terakhir ini ada cerita lucunya.

begitu ngeliat orang eritrea, saya langsung yakin kalo eritrea adanya di afrika. walaupun kalo boleh jujur, saya juga gak tau dimana tempatnya huehehe. akhirnya sesi perkenalan dimulai, dan tahulah saya siapa nama perempuan yang berasal dari eritrea itu. HEWAN. namanya HEWAN. dengan ejaan dan cara pengucapan yang sama *gubraks*

tadinya saya udah mulai sombong dan membatin “akhirnyaa,, ada juga negara antah berantah disini”. pikir saya, orang pasti lebih tau indonesia daripada eritrea. begitu tiba giliran saya memperkenalkan diri ke dia, saya kena batunya. dia bahkan gak tau gimana cara menuliskan “indonesia” dan menatap saya dengan pandangan “maaf-saya-baru-denger-kalo-ada-negara-yg-namanya-indonesia”. *gubraks kuadrat!*

anyway, “vad heter du” adalah “what is your name” dan “jag heter riana” adalah “nama saya riana”. doain aja mudah2an bulan depan saya udah bisa nulis postingan pake bahasa swedia, hihihi :mrgreen:


one month to go – ARABI?

21 February 2009

iya, katanya winter baru 1 bulan lagi selesai disini..

sebagai orang awam yg selalu menganggap bahwa white christmas (atau natal bersalju) selalu terjadi di seluruh negara eropa/amerika, saya baru tahu sekarang kalo itu salah. setidaknya, disini.

desember kemarin ada sih salju.. tapi putih tipis kaya gula kastor di atas donat kampung. atau.. sekalinya tebel, gak tahan lama alias cuma sehari dan besoknya langsung ilang.

3 hari belakangan, akhirnya salju bener-bener menutupi rerumputan dengan konstan (aduh apa ya bahasanya huahaha).. gak segitunya tebel sih, tapi meng-cover sempurna seluruh permukaan. kalo mo iseng ngukur pake penggaris, kayanya sih sekitar 15 senti lah tebelnya.

cuaca juga terus-terusan di bawah -5 beberapa hari belakangan (kalo ekstrim kadang bisa sampe -15). bingung saya, kok suhu terdingin malah terjadi di saat musim dingin udah mau selesai. tapi memang disini begitu.

ah udah deh cukup bicara tentang saljunya hehe. makin lama makin keliatan norak-nya ntar wakakakaka :mrgreen:

*** nah cerita lanjutannya ini gak ada hubungannya sama salju, cuma pengen cerita aja. kemarin  sore, pas saya lagi belanja di supermarket tiba-tiba ada ibu-ibu arab berjilbab yg nyapa saya:

“ARABI?”

“oh no, i’m indonesian..”

*otak saya lalu memproses arah pembicaraan, impuls mengirimkan isyarat motorik tapi lalu otak menghentikan karena tindakan selanjutnya cukup dilakukan dalam hati aja*

” HUEHEHEHHEHEHEHEHEHHE….. langsung pengen jingkrak-jingkrak!! disangka arab cuy! disangka arab! akhirnyaaaaa huahahahahahh..”

kalo gini sih jelas lah. no wonder, some people usually starred at us when my husband and I went out together. as they thought, “how come chinese  and arabian can live together??” :mrgreen:

hmm.. kalo suami saya gak seneng disangka cina, mongol, jepang, ato korea. saya sih seneng disangka arab! hehehe..