Monthly Archives: October 2011

Road to MPASI alias Makanan Pendamping ASI – Part II

Road to MPASI alias Makanan Pendamping ASI – Part II

yuk mari lanjuuuttt…

oke, masih tentang BLW.. keliatannya simple banget ya metode BLW ini? eits tunggu dulu, gak ada metode yang tanpa tantangan. jadi kembali lagi, apapun metode-nya, asal kita konsisten dan sepenuh hati insyaAllah lancar, aamiin!

berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam ber-BLW

DO’s

  • mulai ajak bayi untuk ikut berpartisipasi dalam acara makan keluarga sejak dini. bayi tidak perlu  ikut makan dan orang tua dapat menunggu sampai usia bayi 6 bulan.
  • posisi duduk bayi harus tegak! hal ini untuk mencegah resiko tersedak pada bayi. kalo bayi belum bisa duduk tegak gimana? bisa dimulai dengan dipangku dulu, atau pake high chair yang lumayan menopang sehingga posisi bayi bisa tegak.
  • mulai dengan finger food (makanan yang mudah digenggam) dan tekstur cukup lembut (boleh soft cooked, mudah dihisap, dll).
  • tetap perhatikan variasi dalam makanan (rasa, warna, tekstur, nutrisi), asal jangan berlebihan dan membuat bingung.
  • coba tawarkan kembali makanan yang awalnya sempat ditolak. bayi seringkali mengubah pikirannya dan memakan makanan yang tadinya ia tidak mau.
  • ASI (atau sufor) tetap yang utama. jangan lupa air putih. awalnya, bayi BLW hanya akan mengeksplor dan sedikit yang akan masuk mulut. lama kelamaan, jumlah makanan yang diasup akan bertambah dan porsi ASI/sufor pun akan berkurang seiring dengan itu.
  • siap-siap bahwa acara makan akan sangat berantakan! bisa diakali dengan menyiapkan lembaran plastik sebagai alas makan sehingga acara bersih-bersih jadi lebih mudah.
  • yang punya bakat food intolerance atau alergi, tetap diperhatikan ya.. sebagaimana pemberian MPASI pada umumnya (4 days rule, atau pemberian makanan yang sama berturut2 dalam 4 hari untuk melihat apakah ada efek atau tidak).

DONT’s

  • no junk food, no gulgar, no pengawet (standar MPASI biasa lah)
  • jangan tawarkan makanan pada bayi yang kelaparan, karena pasti dia akan cranky dan lebih memilih untuk menyusu.
  • jangan mengganggu konsentrasi bayi yang sedang makan, dan jangan memaksa untuk mempercepat/menghabiskan makanan, biarkan dia menikmati sendiri.
  • jangan memasukkan makanan ke dalam mulut bayi, biarkan dia mengontrol sendiri untuk menghindarkan resiko tersedak sekaligus melatih kemampuannya dalam memegang makanan. ingat bahwa semua keputusan ada di tangannya!
  • jangan memaksa bayi untuk makan lebih dari yang ia inginkan. jika bayi mulai menangis, membuang makanan atau terlihat tidak tertarik lagi, itu artinya waktu makan sudah selesai.
  • jangan pernah meninggalkan bayi makan sendirian tanpa diawasi.

sumber: http://www.rapleyweaning.com/assets/blw_guidelines.pdf

berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, maka saya pun mulai menyusun strategi *duilee strategi

mengingat masa MPASI Raya yang makin dekat, saya pun mulai membiasakan dia untuk duduk di kursi makan dan menemani saya makan. maksudnya, supaya kelak ketika waktunya makan dia gak bingung dan langsung paham bahwa ketika dia duduk disitu adalah waktunya untuk makan.

berdasarkan buku BLW, perkembangan tiap bayi tidak sama. ada yang mulai memasukkan makanan ke dalam mulut ketika umur 7 bulan, atau lebih awal. gerakan memasukkan makanan ke dalam mulut merupakan salah tanda bahwa pencernaan bayi sudah siap. saya pun mulai menanamkan statement ini dalam diri saya dan bersiap dengan kemungkinan bahwa Raya belum tentu akan langsung makan ketika ditawari makanan.

naaaahhhh, singkat cerita.. 10 hari sebelum Raya 6 bulan, saya pun “iseng” naro plum utuh ke atas tray kursi makannya. buat latian gituuu. toh sama dia juga belum tentu dimakan. eehh bener ternyata sama Raya cuma dilirik aja sekilas (belakangan saya baru sadar kalo saya ngasih buahnya gak lama setelah dia nenen *ingat salah satu rule BLW, jangan terlalu dekat/jauh jarak pemberian makan dengan minum susu! – plus ngasih buahnya juga gak dipotong dulu hehe).

2 hari setelahnya, percobaan kedua, waktu saya lagi masak di dapur, Raya nemenin sambil duduk di kursi makannya. habis itu saya taruh buah plum (kali ini diiris) di atas tray-nya. entah karena waktunya yang tepat atau bentuknya yang sudah sesuai, ternyata Raya memasukkan irisan buah plum ke dalam mulutnya! *terharu..

detik-detik memasukkan ke dalam mulut...

awalnya dia nyengir, tapi terus ngisep2 dan keliatan menikmati… saya pun mulai berpikir, mungkin Raya udah siap untuk makan? sorenya, kebetulan online sama Enin dan Engki-nya Raya, sekalian lah itu show atraksi makan buah plum lagi (ngetes juga, yang tadi siang kebetulan ato enggak). eeehhh, malah udah bisa gigit dan ngunyah loh dia! she really leads her way to start enjoying the food at that time.

nyam nyam nyammmmmmm

langsung deh inspeksi pup-nya Raya keesokan harinya. ternyata lambungnya udah mulai mencerna.. buah plum udah nyaris gak keliatan, tinggal kulitnya aja yang masih kentara xixixixi (jorki dikit gpp yeee). jadi inget juga panduan di buku BLW bahwa salah satu keuntungan ber-BLW adalah pencernaan menjadi lebih optimal karena adanya enzim pencernaan dalam air liur yang bekerjanya terjadi ketika proses mengunyah.

maka dari itu, resmi lah Raya curi start seminggu sebelum dia 6 bulan hehehe. bismillah, saya percaya bahwa memang dia sudah siap. dan semua tanda2 baik “masuk” maupun “keluar” semuanya menunjukkan hasil positif. walaupun gitu, saya belum ngasih rutin, sementara ini dia baru makan 3x: nyoba plum, jeruk, dan alpukat. nunggu sampe bener-bener 6 bulan baru mulai menyusun menu BLW yang baik dan benar. nah, berhubung besok Raya udah resmi 6 bulan, saya udah mulai puter otak deh. rencananya sih: labu siam, zucchini, lobak, brokoli (brokoli banyak mengandung nitrat, katanya sih lebih baik pemberian di atas 8 bulan – tapi saya pernah baca di salah satu forum homemade mpasi: ngasih brokolinya kan juga gak sekarung kan? insyaAllah gpp, aamiin!). sisanya dipikir lagi begitu nyampe indonesia :mrgreen:

ada madzhab MPASI yang bilang 6 bulan sebaiknya full buah (karena buah paling mudah dicerna), ada juga yang bilang sayur (supaya kenal rasa hambar dulu). kalo saya sih rencananya mix buah dan sayur tapi yang rasanya gak terlalu manis hehe (apel dan pir boleh lahhh). karbo insyaAllah mulai 7 bulan.

kenapa gak pake 4-days rule untuk ngetes alergi?

justru, karena Raya punya bakat alergi, i’ll know it right away misalnya dia ada kecenderungan alergi pada suatu jenis makanan. gak perlu nunggu 4 hari, 2 jam juga udah keliatan :(

bismillah.. selamat menapak milestone yang baru dalam hidupmu ya, nak.. ibu sayang Raya :*

Jahit-menjahit.. Mari jahit-menjahit :D

Jahit-menjahit.. Mari jahit-menjahit :D

selagi Raya masih di dalam perut, saya mendadak naksir lagi sama dunia jahit-menjahit. kayanya sih karena rasa keibuan yang mulai meroket tinggi selagi hamil *tsaaaaaahh =))

awalnya, saya mulai nyoba-nyoba tusuk sulam.. nginget2 jaman SMP. gak percuma dong nilai tata busana eike 9 hahaha. dan jadilah itu sulaman selimut bermotif landak,, walaupun sampe hari ini pinggirannya belum di rapiin karena anaknya keburu lahir dan selimutnya selalu stand by di stroller *ngeleeesss

belum sempet dirapiin pinggirnya, ehh udah keburu berbulu selimutnya =))

nah lama-lama ternyata si ibu ini ketagihan “ngobrak-ngabrik” barang-barangnya Raya.. sementara yang udah jadi korban adalah diaper bag, topi, dan bandana-bandana Raya. kebanyakan bahan diperoleh secara kanibal dari baju-baju Raya yang udah gak muat huekekeke.

semakin hari, keinginan untuk menjahit ini semakin menggebu.. udah minta dibeliin mesin jahit ke suami tapi belom di-acc juga. katanya: bukan apa2, kamu tu bosenan orangnya, entar udah dibeliin malah dianggurin lagi! heheeee, agak ada benernya sih =)) contoh beberapa proyek yang akhirnya terbengkalai adalah:

  • blog resep dan masak-masak
    pembelaan: sampe sekarang sebenernya saya masih suka nyoba resep baru dan masih rajin mem-foto hasil masakan (yang apa adanya tersebut). tapiiii, nulis resep dan publish di blog-nya itu lohh yg males hehehe
  • blog Kenya
    pembelaan: keburu mudik ke Swedia =))
  • jurnal kehamilan
    pembelaan: keburu anaknya lahir, sementara ceritanya baru sampe di trimester pertama =))

tak disangka tak dinyana, ketika nanti saya mudik ke indo, ternyata ada deal untuk kelas menjahit-nya tatiana vidi. daaaaannn lokasinya di BSD City (alhamdulillaaahhhh lumayan deket dari rumah). tujuan utama saya adalah: belajar bagaimana memegang mesin jahit dan komponen2-nya. sekaligus menyegarkan ingatan tentang bagaimana mengukur, membuat pola, dll. gini2 waktu SMP, selain tusuk sulam, hasil karya saya adalah celana pendek. dan masih kepake banget sampe 2 tahun yang lalu! saya sih pede kalo saya punya bakat menjahit *ditimpuk sandal orang sekampung* =))

tapi untuk yang ini, insyaAllah saya konsisten! yosh! kan udah terbukti sudah menghasilkan beberapa items? =)) makdarit, maka dari itu, izinkan saya memamerkan hasil karya saya yang lain sementara ini *makin ngelunjak =))

penambahan ornamen bunga pada topi Raya =))

kiri: sebelum, kanan: sesudah

kiri: sebelum, kanan: sesudah

kiri: sebelum, tengah: perubahan ke-1, kanan: perubahan ke-2

sementara sih itu dulu yang baru bisa “dibanggakan” huekekekeke *gak punya malu*

betewe, betewe, adakah ahli jahit-menjahit disini yang mendadak kesasar ke blog saya dan membaca posting ini? mohon kiranya sudi memberikan urun saran.. jadi gini, katanya sih harga mesin jahit di swedia ini lebih murah dibanding di indonesia. dan setelah saya cek, ternyata bener adanya.. pilihan saya jatuh pada mesin jahit merk Brother LS-2125. bukan apa-apa, karena harganya paling murah setelah saya cek di toko2 online di Swedia =))

perbandingan harganya bisa lebih murah 600 ribu – 800 ribu dengan di Indonesia. sungguh sangat berharga sekali perbedaan harga ini bukaaaann?? yang jadi pertanyaan, cocok gak ya mesin jahit itu untuk level sangat2 pemula seperti saya? *berdoa sungguh-sungguh supaya ada ahli jahit yang kesasar kesini, aamiin*

ini nihhhh penampakan mesin jahitnya *sambil lirik suami*

yuk yahh,, bentar lagi mudik nih.. makin gak sabar pingin belajar jahit :D

Road to MPASI alias Makanan Pendamping ASI – Part I: BLW?

Road to MPASI alias Makanan Pendamping ASI – Part I: BLW?

heyloooww.. sebentar lagi umur Raya 6 bulan nih.. sejak Raya masih di dalam perut, saya banyak cari tau tentang MPASI. semuanya didasari dari keinginan saya untuk tidak menurunkan bakat picky-eater kepada anak (oh yes, i’m so picky. i started to eat vegetables when I was in university), bakat makan di emut ketika balita (kata ibu saya, yg ngasuh saya sampe ketiduran pas nyuapin saya, karena udah 2 jam gak abis2 makannya haha), juga melihat pengalaman adik bungsu saya yang baru bisa makan nasi dan lauk pauk ketika dia sudah SMP menjelang SMA, dengan ini saya mencanangkan akan memberikan yang terbaik untuk Raya (ya iyalah, mana ada ibu yang gak ngasih yg terbaik hehe).

catatan: apa yg saya tulis disini terbatas pada pengetahuan saya saja.. benar2 IMHO and please CMIIW :)

so, apa itu MPASI?

MPASI, seperti yang sudah saya uraikan di judul, adalah Makanan Pendamping ASI. karena namanya juga pendamping, maka ASI (atau Susu Formula) masih menjadi asupan yang utama. standar WHO untuk pemberian makanan tambahan adalah ketika usia bayi 6 bulan. tapi di beberapa negara maju, seperti Kanada, Swedia, dll pemberian MPASI boleh dimulai sejak usia 4 bulan. kenapa WHO menetapkan 6 bulan? selain karena mempertimbangkan kematangan organ pencernaan, mengurangu resiko alergi, membentuk antibodi yg cukup dari ASI,  salah satunya adalah karena mengacu pada kondisi sanitasi dan higienitas yg kurang baik di negara berkembang dimana MPASI diberikan “selambat” mungkin untuk mencegah resiko penyajian MPASI yang dimungkinkan kurang bersih. oleh karena itu, di beberapa negara maju yang memang kondisi kebersihan dan kesehatannya sudah lebih baik dari negara berkembang, standar untuk pemberian MPASI dilakukan  pada bayi di rentang usia 4-6 bulan (dengan syarat, bayi sudah memperlihatkan tanda-tanda yang cukup).

Breast milk or formula is the only food your newborn needs. Within four to six months, however, your baby will begin to develop the coordination to move solid food from the front of the mouth to the back for swallowing. At the same time, your baby’s head control will improve and he or she will learn to sit with support — essential skills for eating solid foods.

Most babies are ready to begin eating solid foods as a complement to breast-feeding or formula-feeding between ages 4 months and 6 months. If you’re not sure whether your baby is ready, ask yourself these questions:

  • Can your baby hold his or her head in a steady, upright position?
  • Can your baby sit with support?
  • Is your baby interested in what you’re eating?

If you answer yes to these questions and you have the OK from your baby’s doctor or dietitian, you can begin supplementing your baby’s liquid diet.

Sumber: http://www.mayoclinic.com/health/healthy-baby/PR00029

kalo menurut saya pribadi sih, sesuaikan dengan kondisi dimana kita tinggal. kalo di Indonesia, pastinya sebisaaaaa mungkin ASI eksklusif selama 6 bulan. untuk yg tinggal di negara2 lain, silakan disesuaikan dengan anjuran dan guideline masing2.

trus Raya kapan dikasih makan? karena di Swedia rentang antara-nya untuk solid food adalah 4-6 bulan, saya ditanya oleh bidan waktu kontrol Raya umur 4 bulan, tapi kemudian saya bilang bahwa sepertinya saya belum ingin memberikan tambahan untuk bayi saya. karena growth chart Raya yang bagus, bidannya bilang OK. dari awal juga dia udah bilang, I will tell you about food when Raya is 4 months, but it’s up to you if you want to give it at that time or not. you can wait, but no later than 6 months.

pun ketika Raya 5 bulan, saya ditanya lagi, saya bilang saya masih ASI, but I will surely start several weeks from now. sebenernya, mengulang paragraf pertama saya di awal, alasan saya untuk menunda hingga 6 bulan selain karena pertimbangan kesiapan anak, juga kesiapan dari diri saya. saya ingin membekali mental dan pengetahuan saya sebanyak yang saya bisa, untuk kemudian memulai MPASI. mental terutama, saya merasa saat pemberian makanan tambahan bagi Raya adalah salah satu milestone yang besar dalam tahap perkembangan hidupnya. ada rasa grogi, takut, terharu… karena itulah saat dimana Raya tidak lagi hanya tergantung pada ASI saya :’)

sebelum Raya lahir, saya sudah tertarik dengan metode BLW (Baby-Led Weaning). kebetulan salah satu teman saya menerapkan itu pada anaknya, jadi saya mulai lah browsing sana-sini tentang metode ini. secara singkat, metode ini adalah metode pemberian makanan padat pada bayi dengan membiarkan bayi makan sendiri (diawali dengan finger food) dan men-skip bentuk puree atau bubur.

berikut beberapa manfaat BLW:

  • membuat bayi mengeksplorasi rasa, tekstur, warna dan bau suatu makanan
  • mendorong rasa kepercayaan diri dan kemandirian si bayi, memberikan kontrol sepenuhnya pada bayi kapan dia kenyang dan berhenti makan (yang mana, ternyata secara natural kontrol ini sudah dimiliki bayi lho.. coba perhatikan bayi menyusui, dia akan melepaskan puting ketika dia sudah merasa kenyang, kan)
  • membantu bayi untuk mengembangkan motoriknya terutama koordinasi mata-tangan dan juga belajar untuk mengunyah
  • bayi bisa makan bersama dengan orang tuanya

sumber: http://baby-led.com/

sumber Indonesia: http://babyledweaning-indonesia.blogspot.com/

sementara kekurangan dari metode ini sejauh yang saya dapat:

  • expect the mess! situasi makan akan super berantakan karena anak belajar makan sendiri.
  • tidak bisa menikmati mesra-nya menyuapi anak (hehe, i second this. tidak bisa dipungkiri menyuapi anak memang rasanya romantisss :P )

lalu bagaimana dengan nutrisi?

katanya: jangan khawatir, sampai umur 1 tahun, bayi memang masih belajar makan. ada yang bilang: food is for fun until 1! karena asupan nutrisi masih sangat bergantung pada ASI atau susu formula. walaupun, pada kenyataannya sih saya juga deg-degan hehehe.

trus, gak takut kesedak tuh, bayi baru belajar makan langsung dikasih finger food?

bayi itu pinter lho, dia punya refleks untuk melepehkan makanan yang dirasa kegedean dari mulutnya. daaann, selama bayi duduk tegak ketika makan, insyaAllah gak akan kesedak. kalo sekedar “oeekk oekk”, itu namanya bukan kesedak (choking), melainkan gagging (refleks melepeh).

lalu, laluuuu bagaimana dengan Raya?

rencananya sih, saya akan memperkenalkan BLW dan juga metode konvensional dengan sendok.. nantinya, saya akan membiarkan Raya “memilih” mana yang nyaman untuk dia. rencana sih begituuuu.. kita liat aja pelaksanaannya gimana hehe.

in the end, i just want to say, EVERY MOM KNOWS WHAT IS BEST FOR THEIR CHILD. and so does their child, hehehe!

1st time travelling with baby: Budapest

1st time travelling with baby: Budapest

alhamdulillah 3 minggu yang lalu berkesempatan jalan2 sekeluarga.. tepatnya sih ngintil si Bapak selama 5 hari yang lagi ada acara di Budapest hehehe! dan inilah pengalaman pertama kami pergi hanya bertiga saja dengan pesawat udara. jalan2 sambil bawa bayi tentunya =D

  1.  Barang bawaan Raya
    prinsip saya waktu akan memulai travelling adalah bagaimana caranya membuat nona boss tetap nyaman seperti di rumah. selain setumpuk diapers, hampir semua mainan Raya juga saya bawa. setelah itu, saya pisah2kan, beberapa mainan ditaruh di tas kabin sementara yang lain masuk bagasi. saya juga bawa selimut dan bantalnya Raya, mengingat bantal dan selimut di hotel pasti super gede). alhasil, jumlah barang bawaan Raya = jumlah barang bawaan Ibu + jumlah barang bawaan Bapak.
    .
  2. Take-off dan Landing
    setelah khatam googling sana-sini, saya sudah mempersiapkan diri untuk  nyusuin Raya ketika take-off dan landing. manfaatnya adalah, untuk mengurangi ketidaknyamanan pada bayiketika tekanan udara tiba2 berubah karena perbedaan ketinggian. selain nenen, bisa juga dengan cara ngempeng (kalo bayi-nya ngempeng), atau nge-dot. pokoknya mulut harus bergerak deh. nah, persiapan udah mantap, baju juga udah pake yg breastfeeding-friendly, eh ternyata si nona boss keburu tidur duluan =))

    zzzzzzzzzzz..... bobo di gendongan ibu

    selama perjalanan 2,5 jam (Göteborg-Budapest), nona kecil sempet bosen. taraaaa, inilah gunanya mainan yg ditaruh di kabin. untungnya ketika jam makan, Raya malah lumayan anteng. jadi Bapak dan Ibu bisa makan gantian dengan tenang sentausa.
    .
    begitu menjelang landing, Raya agak rewel, kayanya sih mulai ngerasa gak nyaman. langsung deh saya susuin lagi sampe dia ketiduran.

  3. Stroller Gendongan
    sempat terjadi kebingungan apakah kita akan bawa stroller buat Raya ato enggak. travelling sebelumnya ke Copenhagen dan Stockholm pake kereta (waktu itu masih ada enin), kita bawa stroller. nah, di website maskapai jelas tercantum bahwa kita boleh bawa stroller. yang jadi ganjalan adalah, stroller kita tipe yg bulky, karena termasuk everyday stroller yg carrycot-nya (halah carrycot, tempat tidur itu lho) terpisah. jadi, kita punya 2 tipe cot, yang fully-reclined dan yang duduk (kalo nanti Raya udah bisa duduk). penampakan seperti ini: kalopun misalnya bisa masuk bagasi, kita gak yakin kalo kondisi di Budapest akan se-smooth seperti Copenhagen dan Stockholm yang memang pedestrian-friendly. ada sih satu lagi travelling stroller, tapi Raya sangat belum bisa pake itu. itu mah nunggu dia hampir setahun kayanya baru bisa hehe.
    .
    sebagai backup, akhirnya kita bawa 2 gendongan. baby wrap-nya hanaroo yg memang saya nyaman makenya, dan infantino rider buat suami (karena dia gak bisa2 pake babywrap wkwkw). daaaann betul saja sodara2, pedestrian di budapest memang ok, tapi transportasi umumnya belum stroller-friendly. trem yang bagus hanya 2 jalur, sisanya bertangga2. sementara metro bawah tanahnya gak ada elevator!!!! untuk masuk ke loket bener2 hanya tangga. sementara untuk ke peron hanya ada eskalator. alhamdulillah, gendongan bayi bener2 penyelamat (terutama buat Raya, karena kalo buat emaknya yang 3 hari hanya jalan2 berdua dia aja, teteuuupp lah ya, sakit punggung gak bisa dihindari huahaha).
    .

the travel itself
dulu, awal2 travelling, saya dan suami seringkali gak menyiapkan segala sesuatunya (penginapan, itinerary, dan lain2nya bener2 ala koboi yang mendadak di tempat). tapi karena pengalaman “pahit” di italy membuat saya akhirnya berusaha se-rapi jali mungkin meng-organise semuanya (suami sih sampe sekarang seringnya manut aja).
hotel sudah di-booked in advance. dengan harga yg sama seperti kita keluarkan di Milan (yang mana kita tidur di hostel berupa dormitory, terpisah cowok-cewek),  alhamdulillah kita dapet nginep di Ibis.. nyaman, deket dari mana2, dan family-friendly banget. puassss. buat yang mau cari referensi, ada beberapa Ibis di Budapest, yang kita ambil adalah Ibis Budapest City (Ibis Emke) –> termurah ke-2 xixixiii. lokasi yahud banget, ke metro tinggal ngesot, ke halte trem tinggal lompat2, ke KFC cuma 2 stop (akhirnyaaaaaaa.. KFC!). walaupun gak tau halal atau enggak-nya, tapi bismillah aja karena semua yg dijual di KFC kan ayam.. sementara Burger King, McD, siapa yang jamin minyak bekas goreng fish burger-nya bukan minyak bekas goreng bacon? hiiiiiikkksss.. alhamdulillah di hari terakhir kita menemukan tempat makan yang (insyaAllah) halaalan thoyyibah.

kedai kebab halal milik imigran Syria

seperti yang sudah saya bilang, selama 5 hari di Budapest, hanya hari pertama dan terakhir kita bisa jalan2 bertiga. sementara 3 hari-nya full hanya ibu dan Raya. saya pun mengacu pada itinerary di bawah ini (sumber: dari sini ):
.
DAY ONE:

  • Chain Bridge ( walk, inner city nearby) checked!
  • Caste Hill/Castle district ( best to take a taxi, hard to find parking, fee to enter the district) checked! (gak usah naik taksi, ada bis 16 dari Deak Ferenc Ter tiap 8 menit sekali)
  • Mathias Church ( located in the Castle district – fee to enter the church) checked! (liat dari luar)
  • Fisherman’s Bastion ( next to Mathias Church)checked! (liat dari luar)
  • Buda Castle/Royal Castle/Royal Palace ( Castle Hill district)checked! (liat dari luar)
  • Memento Park  (kejauhan bookk!)
  • -Danube river cruise ( to close the day best to start the cruise early evening, fantastic view at night when the ship returns) – checked! (di hari ke-3)

DAY TWO:

  • St. Stephen’s Basilica
  • Great Synagogue ( closed on Saturday) checked! (liat dari luar)
  • Andrássy Ut ( under is the Old Metro, very clean- historic)checked!
  • House of Terror ( located on Andrássy Ut 60, closed on Mondays, 1800 Ft=$9)checked! (liat dari luar juga)
  • City Park/Heroes Square/Vajdahunyad Castle– checked!
  • Széchenyi Baths ( tickets are for 2 hours, extra charge over 2 hrs- very relaxing) lahh kalo eike mandi terus Raya mau dikemanain? :P
  • Central Market Hall -- nyolong start, cuci mata dulu huehehe

DAY THREE:

  • Central Market Hall ( good place to by souvenirs) from here you walk to-Váci Utcachecked!
  • Váci Utca ( for pedestrians only, shops, restaurants, exchange) expensivechecked! (hari pertama sama suami)
  • Parliament ( take english tour, approx 1hour, may have long lines, fee) liat dari luar aja (dengan jarak yg cukup jauh huehe)
  • Margaret Island ( best to take Margaret Hid ( bridge) no auto trafic allowed here cuma nyampe Margaret Hid aja, gak masuk ke island-nya, udah gempor soalnya gak ada angkot yg boleh lewat =))
  • Citadell/Gellért Hegy ( take taxi) fantastic view of Budapest  kejauhan, gak mau naik taksi kalo gak sama suami hakshakshaks

.
dan saudara2 travelling dengan bayi (yang mana hanya berdua aja), ternyata benar2 mengubah gaya travelling saya (halah kayak yg dulu punya gaya aja, wkwk). sekarang ini bener2 slow-travelling deh. keluar pagi, siang istirahat dulu di hotel, agak sorean baru keluar lagi. belum lagi kadang nih, eike udah rapi jali pagi2, gak taunya nona boss bobo lagi. gak tega lah mau bangunin-nya. plus, sekarang cukup mengagumi objek wisata dari luar (atau bahkan dari jauh) aja udah cukup lah. alhamdulillah hari terakhir karena sama suami, jadi balik lagi ke castle district dan menikmati dengan lebih khusyu’.

demikian lah sedikit-banyak nya yang bisa saya bagi.. semoga ada manfaatnya, terutama buat yang mau mulai travelling sama bayi, dan juga buat yang mau ke Budapest (walaupun saya sangat menyadari, dua2nya gak ada yg bener2 dibahas sampe dalem huekeke!).